PULAU JAWAPada awal Paleogen Sumatera, Kalimantan dan Jawa masih merupakan satu daratan dengan Benua Asia yang disebut tanah Sunda. Pada Eosen pulau Jawa yang semula berupa daratan, bagian utaranya tergenang oleh air laut dan membentuk cekungan geosinklin. Sedangkan bagian selatan pulau Jawa terangkat dan membentuk geantiklin yang disebut geantiklin Jawa Tenggara. Pada kala Oligosen hampir seluruh pulau jawa terangkat menjadi geantiklin yang disebut geantiklin Jawa. Pada saat ini muncul beberapa gunung api di bagian selatan pulau ini.
Pulau Jawa yang semula merupakan geantiklin berangsur-angsur mengalami penurunan lagi sehingga pada Miosen bawah terjadi genang laut. Gunung api yang bermunculan di bagian selatan membentuk pulau-pulau gunung api. Pada pulau-pulau tersebut terdapat endapan breksi vulkanik dan endapan-endapan laut. Semakin jauh dari pantai terbentuk endapan gamping koral dan gamping foraminifera.
Pada Miosen tengah di sepanjang selatan pulau Jawa pembentukan gamping koral terus berkembang diselingi batuan vulkanik. Kemudian pada Miosen atas terjadi pengangkatan pada seluruh lengkung Sunda-Bali dan bagian selatan Jawa. Keberadaan pegunungan selatan Jawa ini tetap bertahan sampai sekarang dengan batuan penyusun yang didominasi oleh batuan kapur yang dibeberapa tempat diselingi oleh munculnya vulcanic neck atau bentuk intrusi yang lain. Perkembangan tektonik pulau Jawa dapat dipelajari dari pola-pola struktur geologi dari waktu ke waktu. Struktur geologi yang ada di pulau Jawa memiliki pola-pola yang teratur. Secara geologi pulau Jawa merupakan suatu komplek sejarah penurunan basin, pensesaran, pelipatan dan vulkanisme di bawah pengaruh stress regime yang berbeda-beda dari waktu ke waktu. Secara umum, ada tiga arah pola umum struktur yaitu arah Timur Laut –Barat Daya (NE-SW) yang disebut pola Meratus, arah Utara – Selatan (N-S) atau pola Sunda dan arah Timur – Barat (E-W) disebut pola Jawa.
Pola Meratus di bagian barat dapat dilihat pada Sesar Cimandiri, di bagian tengah ditunjukkan dari pola penyebaran singkapan batuan pra-Tersier di daerah Karang Sambung. Sedangkan di bagian timur ditunjukkan oleh sesar pembatas Cekungan Pati, “Florence” timur, “Central Deep”. Cekungan Tuban dan juga tercermin dari pola konfigurasi Tinggian Karimun Jawa, Tinggian Bawean dan Tinggian Masalembo. Pola Meratus tampak lebih dominan ditunjukkan pada bagian timur.
Pola Sunda berarah Utara-Selatan, di bagian barat tampak lebih dominan sementara perkembangan ke arah timur tidak terlihat. Pola-pola ini antara lain pola sesar-sesar pembatas Cekungan Asri, Cekungan Sunda dan Cekungan Arjuna. Pola Sunda pada Umumnya berupa struktur regangan.
Pola Jawa di bagian barat diwakili oleh sesar-sesar naik seperti sesar Beri-bis dan sesar-sesar dalam Cekungan Bogor. Di bagian tengah tampak pola dari sesar-sesar yang terdapat pada zona Serayu Utara dan Serayu Selatan. Di bagian Timur ditunjukkan oleh arah sesar Pegunungan Kendeng yang berupa sesar naik.
Dari data stratigrafi dan tektonik diketahui bahwa pola Meratus merupakan pola yang paling tua. Sesar-sesar yang termasuk dalam pola ini berumur Kapur sampai Paleosen dan tersebar dalam jalur Tinggian Karimun Jawa menerus melalui Karang Sambung hingga di daerah Cimandiri Jawa Barat. Sesar ini teraktifkan kembali oleh aktivitas tektonik yang lebih muda. Akibat dari pola struktur dan persebaran tersebut dihasilkan cekungan-cekungan dengan pola yang tertentu pula. Cekungan Jawa Utara bagian barat dan Cekungan Jawa Utara bagian timur yang terpisahkan oleh tinggian Karimun Jawa. Secara lebih terperinci, Dobby membagi Jawa dan Madura atas dasar bentuk permukaan buminya menjadi : 1. Pantai selatan yang merupakan dataran dari kapur 2. Daerah perbukitan di bagian tengah 3. Jalur gunung api yang menjadi sumbu Pulau Jawa 4. Jalur alluvial (endapan) yang memanjang dari Banten menuju Lembah Lusi-Solo sampai Selat Madura. 5. Pantai utara yang merupakan dataran dari kapur.
Pantai Selatan
Dinding-dinding pantai selatan Jawa sangat curam. Karena ketika bagian selatan pulau Jawa terangkat pada Oligosen, gelombang laut selatan Jawa yang besar akan menghantam dinding pantai sehingga menjadi terjal. Gelombang pantai yang besar ini dikarenakan angin yang berhembus berasal dari laut lepas (Samudera Hindia). Contohnya pada pantai Popoh di Tulung Agung. Pantai ini berhadapan langsung dengan laut lepas dan dinding pantainya sangat terjal. Pada pantai ini terdapat singkapan yang sangat bagus yaitu diantara lapisan batuan kapur tersisip suatu lapisan yang terdiri dari batuan pasir. Batuan ini merupakan hasil aktivitas vulkanik yang ada pada saat koral dan foraminifera mulai tumbuh pada Miosen bawah. Singkapan yang ada dibentuk oleh hantaman gelombang (abrasi) dari Samudera Hindia.
Daerah Perbukitan
Barisan perbukitan dan jalur lembah-lembah adalah bentang alam tua yang sudah sangat terkikis. Di antara perbukitan itu terdapat suatu alur yang dibeberapa tempat merupakan cekungan, misalnya Bandung dan Garut. Sedangkan mengarah ke timur semakin melebar dan mulai terbuka serta melandai sampai sebagian tenggelam di Selat Madura. Ketinggian endapan di daerah ini menurut Dobby sampai mencapai kira-kira 1200 m, dan membentuk bagian dari susunan dataran tinggi di Pulau Jawa. Di bagian selatan barisan perbukitan ini ada yang mencapai pantai sebagai tebing pantai yang curam. Hanya dibeberapa tempat dikatakan bahwa tanah tinggi itu mundur dari pantai, misalnya di dataran rendah Banyumas.
Jalur Gunung Api
Sumbu jalur rangkaian gunung api terletak di pedalaman. Sebagai perkecualian adalah Gunung Karang di Banten dan Gunung Muria di dekat Jepara. Kedua gunung api tersebut terletak di luar jalur umum. Di Jawa Barat rangkaian gunung api merupakan lengkungan melingkupi cekungan Bandung dan cekungan Garut, yang pada masa dahulu pernah tergenang menjadi danau. Keadaan yang mirip terdapat di Jawa Timur. Di sini pun gunung-gunung api membentuk kumpulan yang bersambung. Gunung-gunung api di Jawa Tengah agak berbeda dengan di Jawa Barat dan Jawa Timur. Di Jawa Tengah, gunung-gunung api hanya mengelompok dalam dua atau tiga saja, dipisahkan oleh dataran tinggi endapan. Kebanyakan gunung api tersebar pada jalur tengah. Bahan-bahan ejektanya menyebar ke berbagai tempat. Menurut Dobby, hanya gunung api di Banten Selatan yang mengeluarkan lava asam. Karena itu kesuburan daerah ini agak rendah bila dibandingkan dengan daerah lainnya di Jawa Barat.
Jalur Alluvial Utara
Endapan ini terbentuk oleh sungai yang membawa bahan ejekta gunung api. Karena itu, dataran ini umumnya cukup subur. Jalur endapan ini menurut Dobby terbagi atas dua bagian : (1) bagian yang sebelah dalam, yang lebih dekat ke pegunungan, dibatasi oleh teras-teras yang hampir sejajar dengan garis pantai; (2) bagian luar merupakan dataran yang tingginya <> Pantai Kapur Utara Pantai utara Jawa merupakan daerah yang relatif tandus karena di sana terdapat alur pegunungan kapur utara. Pantai kapur ini terutama terdapat di daerah Rembang dan Madura. Di pantai Rembang-Bojonegoro dataran endapannya sempit dan pantainya mempunyai tebing agak curam, dibeberapa daerah melebihi 30 m. Di Madura tepian kapur ini tidak merata. Physiographic Zones of Java and Madura menurut Van Bemmelen (1949- 1970) : Legends of The Physiographic Zones : 1. Quaternary Volcanoes 2. Alluvial Plains of Northern Java 3. Rembang Madura Anticlinorium 4. Bogor, North Serayu, and Kendeng Anticlinorium 5. Domes and Ridges in the Central Depression Zone 6. Central Depression Zone of Java and Randublatung Zone 7. Southern Mountains
JAWA BARAT BANTEN
Dataran yang rendah di bagian utara Muncul vulkan (gunung Gede) di barat laut dengan pelabuhan Merak di kaki vulkan di bagian barat dan komplek danau dengan puncak Gunung Karang dan Gunung Pulasari. Gunung api (vulkan) tersebut merupakan kelanjutan (sambungan) dari volkan di selat Sunda (Krakatau, Sebesi, Sebuku, Sangiang) dan Gunung Betung, Ratai, Rajabasa di Sumatera (Lampung).
Dataran tersebut tertutup oleh tuff dan batu apung yang merupakan produk dari letusan vulkan di selat sunda selama kala pliopleistosin. Semenanjung Ujung Kulon dan Honje Ridge di tenggara Banten Keduanya terpisah dari Jawa oleh laut pada pleistosin dan merupakan bagian ujung bagian selatan bukit barisan. Ujung Kulon berhubungan dengan teluk Semangko namun saat ini telah mengalami penurunan di bagian tengah sampai 1000 m di bawah laut dan terpisah karena kenaikan permukaan air pada pleistosin. Honje Ridge merupakan bentuk uplift dan bagian dari transisi geosinklinal sumatera bagian timur dan Jawa bagian utara. Dataran rendah di timur laut Banten, utara Bajah dome, dan timur komplek danau. Yaitu berupa lapisan tersier muda yang terlipat, tuff kuarter dan timbunan/endapan alluvial.
DATARAN BATAVIA
Berukuran lebar ± 40 km yang meluas dari Serang, Rangkas Bitung sampai Cirebon. Mengandung dalam jumlah besar endapan alluvial sungai dan lahar dari gunung api di bagian tengah. Pada bagian tertentu terdapat sedimen marine tertier yang terlipat. Pada bagian selatan berhubungan dengan komplek perbukitan yang membujur dari Jasinga (berbatasan dengan Banten) sampai sungai Pemali dan Bumiayu (Jawa Tengah).
ZONE BOGOR
Pada bagian barat merupakan lapisan neogen yang terlipat kuat dengan beberapa hypabysal volcanic, stock yang muncul pada komplek sangga buana di bagian barat Purwakarta. Bagian barat tersebut meluas ke timur yang dimahkotai oleh vulkan muda seperti Bukit Tunggul, Tampomas dan Ceremai. Sabuk memanjang dari depresi antarpegunungan berupa lapisan tersier yang mempunyai lebar 20 km-40 km. Membentang dari teluk pelabuhan Ratu, lembah Cimandiri (Sukabumi), dataran bagian atas Cianjur, Garut, lembah Citandui (Tasikmalaya) di bagian barat dan berakhir di segara anakan pada pantai selatan Jawa.
ZONE BANDUNG
Merupakan suatu depresi dan secara struktural merupakan bagian puncak dari geantiklin Jawa yang mengalami patahan ke bawah setelah atau selama akhir tersier. Batas antara zone Bandung dengan zone Bogor ditutup oleh gunung api kuarter (muda), yaitu Gunung Kendeng, Gagak, Salak, Gede, Pangrango, Komplek Sunda, Burangrang, Tangkuban Perahu, Bukit Tunggl, Calancang, Cakrabuana. Batas antara zone Bandung dengan zone selatan (pegunungan) ditandai oleh seri gunung api Kendeng, Patuha, Tilu, Malabar, Papandayan, Cikurai. Zone Bandung diisi sebagian oleh vulkan muda dan endapan alluvial tetapi pada bagian atas kadang-kadang diintrusi jajaran batuan tersier dan bukit-bukit. Di bagian selatan berupa tanah rendah Citandui (Marsh), di bagian barat dekat Banjar berupa Swamp (lakbok) besar, dan jajaran pegunungan yang meluas dari Wonorejo ke arah tenggara sampai maos pada sungai Serayu. Jajaran pegunungan ini mengandung lapisan neogen bawah dan batuan volkanik.
PEGUNUNGAN SELATAN
Dibentuk oleh lahan pegunungan Priangan Selatan, unit tersebut membujur teluk pelabuhan Ratu sampai pulau Nusa Kambangan. Merupakan geantiklin Jawa bagian selatan dan merupakan blok-blok patahan yang bergeser ke arah selatan. Dibedakan menjadi 3 bagian : Di bagian barat (Jampang) Merupakan permukaan erosional yang muncul secara gradual dari lautan India sampai ketinggian 1000 m berupa breksi andesit yang terbentuk pada meosin atas, sekarang berupa volcanic neck. Plato, dan puncak tertinggi pada plato tersebut adalah Gunung Malang (1300 m) yang merupakan sisa dari intrusi andesit zaman meosin berupa volcanic neck yang resisten. Plato tersebut selanjutnya patah ke bawah dan terbentuk patahan atau flexure sampai ke zone Bandung. Bagian Tengah/Seksi Pangalengan Merupakan daerah yang tinggi yang dimahkotai oleh beberapa vulkan (Gunung Kencana 2.182 m) dan selanjutnya patah ke bawah dengan membentuk patahan atau flexure ke zone Bandung. Zone Transisi antara bagian tengah ini dengan zone Bandung (ada fault) ditandai oleh seri vulkan kuarter yang berhubungan dengan zone Bandung. Bagian Timur (Seksi Karangnunggal) Merupakan plato yang mempunyai ketinggian rendah (350-400 m) di atas permukaan laut. Di sebelah selatan terdapat igir yang lebih tinggi yang merupakan sisa erosi permukaan. Plato Karangnunggal terdiri dari batuan kapur berumur meosin yang mengalami sedikit pelipatan. Terdapat topografi karst dengan banyak kubah dan banyak sungai dengan lembah yang sempit. Zone plato ini miring ke arah selatan dan bertambah sempit dan berakhir pada taji (spur) dekat lembah yang tenggelam yang memisahkannya dari Nusa Kambangan. Secara geomorfologis Jawa Barat terbagi menjadi : Zone Selatan : Plato Jampang, Plato Bongga dan Plato Karangnunggal. Zone Tengah (berupa depresi) : Dataran Tasikmalaya, Dataran Garut, Komplek pegunungan di barat Garut, Lipatan Rajamandala, Dataran Bandung, Dataran Cianjur-Sukabumi, Komplek Gunung Gede-Pangrango dan Sekton Banten. Zone Utara Daerah Lipatan, Endapan Kipas, Jalur Peneplain, gunung Ceremai dan se-kitarnya, Komplek Tangkuban Perahu, Komplek pegunungan di Banten.
JAWA TENGAH
Jawa Tengah merupakan bagian yang sempit di antara bagian yang lain dari Pulau Jawa, garis pantai utara dan selatan wilayah ini lebih sempit masuk dibanding garis pantai utara dan selatan Jawa Barat dan Jawa Timur. Lebarnya pada arah utara-selatan sekitar 100 – 120 km. Daerah Jawa Tengah tersebut terbentuk oleh dua pegunungan yaitu Pegunungan Serayu Utara yang berbatasan dengan jalur Pegunungan Bogor di sebelah barat dan Pegunungan Kendeng di sebelah timur serta Pegunungan Serayu Selatan yang merupakan terusan dari Depresi Bandung di Jawa Barat. Jawa Tengah dibagi menjadi beberapa wilayah menurut bentang fisiografisnya, yaitu: Dataran Pantai Bagian Utara Mempunyai lebar maksimum 40 km di selatan Brebes dan di lembah Remali yang memisahkan Bogor Range dari pegunungan bagian utara Jawa tengah dan sedikit ke timur dengan lebar ± 20 km di selatan Tegal dan Pekalongan. Antara Wereli dan Kaliwungu merupakan alluvial yang dibentuk oleh delta dari sungai Bodri. Secara umum dataran pantai bagian utara Jawa Tengah merupakan endapan alluvial yang terbawa sungai yang bermuara di Laut Jawa.
North Serayu Range
Mempunyai lebar antara 30-50 km. Pada bagian barat berupa volkan (G. Slamet) dan bagian timur ditutup oleh produk gunung api muda seperti Rogojembangan, komplek Dieng (G. Perahu dsb), G. Ungaran. Garis batas dengan zone Bogor (Jawa Barat) merupakan garis lurus Prupuk-Bumiayu-Ajibarang. Dan berhubungan dengan Kendeng Ridge di Jawa Timur. Antara bagian utara dan selatan Serayu Range terdapat depresi memanjang yang dinamakan zone Serayu yang sekarang adalah tempat-tempat di Majenang, Ajibarang, Purwokerto, Banjarnegara, Wonosobo. Antara Purwokerto dan Banjarnegara dengan lebar ± 15 km. Sebelah timur Wonosobo merupakan batasnya, berupa depresi yang sebagian diisi oleh gunung api muda Sindoro dan Sumbing, yang secara geografis merupakan dataran antarpegunungan Temanggung-Magelang.
South Serayu Range
Terbagi menjadi bagian barat dan timur. Pada bagian barat merupakan elemen strukturak baru yang menyambung dengan Jawa Barat. Dengan Bogor Ringe (Zone Bogor) dipisahkan oleh dataran Majenang dan bagian atas yang lurus dari sungai pasir dan Cihaur. Pada bagian timur merupakan Lembah Jatilawang yang dimulai dari dekat Ajibarang (merupakan antiklinorium yang sempit), yang selanjutnya terpotong oleh sungai Serayu. Bagian barat Banyumas berupa antiklin, berkembang sebagai antiklinorium dengan lebar 30 km di Lukulo, Midangan (selatan Banjarnegara). Pada ujung timur dibentuk oleh Dome Independen dari pegunungan Progo Barat, antara Purworejo dan sungai Progo.
Dataran Pantai Selatan Jawa Tengah
Lebar ± ±10-25 km. Bentuk pantai bagian selatan ini kontras dengan bentuk pantai selatan Jawa Barat dan Jawa Timur, lapisannya <10> Pantai-pantai dengan dune (gumuk pasir) dengan ketinggian 5-15 m dan lebar 100-500 m terbentuk sejajar pantai, dan selalu berubah. Pada bagian tengah diinterupsi oleh Pegunungan Karangbolong (475 m) yang secara fisiografis dan struktural sama dengan pegunungan selatan Jawa Barat dan Jawa timur. Sebagian dari pantai ini mempunyai ketinggian di bawah muka laut (tenggelam) antara Nusa Kambangan dan mulut sungai Opak. Pantai selatan yang rendah ini berhubungan dengan zone Bandung di Jawa Barat.
JAWA TIMUR
Struktur Geologi Jawa Timur di dominasi oleh Alluvium dan bentukan hasil gunung api kwarter muda, keduanya meliputi 44,5 % dari luas wilayah darat dan hasil gunung api kwarter tua sekitar 9,78 % dari luas total wilayah daratan. Sementara itu batuan lain hanya mempunyai proporsi antara 0 - 7% saja.
Batuan sedimen alluvium tersebar disepanjang sungai Brantas dan Bengawan Solo yang merupakan daerah subur. Batuan hasil gunung api kwater muda tersebar di bagian tengah wilayah Jawa Timur membujur ke arah timur yang merupakan daerah relatif subur. Batuan Miosen tersebar di sebelah selatan dan utara Jawa Timur membujur ke arah timur yang merupakan daerah kurang subur. Bagi pulau Madura batuan ini sangat dominan dan utamanya merupakan batuan gamping. Jawa Timur dibagi secara bentang fisiografis menjadi enam zona yang membentang barat-timur. 1. Antiklinorium Rembang (Zona Rembang) Zona Rembang merupakan paleo shelf atau paparan (utaranya) dan slope (selatannya) dari sistem Sunda land semasa Paleogen hingga awal Neogen. Selama Neogen akhir zona Rembang selatan hingga Kendeng berangsur menjadi endapan laut dalam. Karena subsidence inilah, maka terjadi kompetisi seleksi alam bagi pertumbuhan karbonat (reefal carbonate) di sepanjang zona Randublatung.
Zona ini meliputi pantai utara Jawa yang membentang dari Tuban ke arah timur melalui Lamongan, Gresik, dan hampir keseluruhan Pulau Madura. Merupakan daerah dataran yang berundulasi dengan jajaran perbukitan yang berarah barat-timur dan berselingan dengan dataran aluvial. Lebar rata-rata zona ini adalah 50 km dengan puncak tertinggi 515 m (Gading) dan 491 (Tungangan). Litologi karbonat mendominasi zona ini. Aksesibilitas cukup mudah. Karakter tanahnya keras. 2. Zona Depresi Randublatung
Secara struktur, ternyata Zona Randublatung adalah sebuah "triangle zona", sebuah zona berbentuk segitiga dengan kedua kakinya merupakan zona-zona sesar yang saling berlawanan kemiringan dan arahnya, bertemu di puncak segitiga. Di Jawa Tengah-Timur ini, Zona Randublatung berupa zona yang datar yang diapit oleh dua zona perbukitan (Zona Rembang dan Zona Kendeng). Zone Rembang merupakan daerah paparan dan slope yang dicirikan dengan dominasi sesar naik mengarah (vergency) ke selatan. Zone Kendeng merupakan daerah slope dan bathyal dengan dominasi sesar naik mengarah ke utara. Akibatnya, di daerah pertemuan ini, terbentuk sebuah zone sangat sempit, memanjang, dan sangat dalam, inilah Zone Randublatung yaitu sebuah triangle zone yang ideal. Karakter tanahnya lunak karena sebagian besarnya ditutupi oleh batu lempung, aksesibilitas mudah, adanya aliran Bengawan Solo memungkinkan untuk berperan dalam irigasi persawahan. Potensi ada pada areal persawahan. Selain itu, daerah ini berpotensi dalam industri migas karena daerah cekungan ini merupakan tempat terbentuknya minyak.
3. Antiklinorium Kendeng (Zona Kendeng) Secara umum struktur – struktur yang ada di Zona Kendeng berupa : Lipatan Lipatan yang ada pada daerah Kendeng sebagian besar berupa lipatan asimetri bahkan beberapa ada yang berupa lipatan overturned. Lipatan – lipatan di daerah ini ada yang memiliki pola lipatan menunjam. Secara umum lipatan di daerah Kendeng berarah barat – timur. Sesar Naik Sesar naik ini biasa terjadi pada lipatan yang banyak dijumpai di Zona Kendeng, dan biasanya merupakan kontak antar formasi atau anggota formasi. Sesar Geser Sesar geser pada Zona Kendeng biasanya berarah timur laut- barat daya dan tenggara -barat laut. Struktur Kubah Struktur Kubah yang ada di Zona Kendeng biasanya terdapat di daerah Sangiran pada satuan batuan berumur Kuarter. Bukti tersebut menunjukkan bahwa struktur kubah pada daerah ini dihasilkan oleh deformasi yang kedua, yaitu pada Kala Plistosen. Menurut Van Bemmelen (1949), Pegunungan Kendeng dibagi menjadi 3 bagian, yaitu bagian barat yang terletak di antara Gunung Ungaran dan Solo (utara Ngawi), bagian tengah yang membentang hingga Jombang dan bagian timur mulai dari timur Jombang hingga Delta Sungai Brantas dan menerus ke Teluk Madura. Daerah penelitian termasuk dalam Zona Kendeng bagian barat.
Menurut Harsono P. (1983) Stratigrafi daerah kendeng terbagi menjadi dua cekungan pengendapan, yaitu Cekungan Rembang (Rembang Bed) yang membentuk Pegunungan Kapur Utara, dan Cekungan Kendeng (Kendeng Bed) yang membentuk Pegunungan Kendeng. Formasi yang ada di Kendeng adalah sebagi berikut: Zona perbukitan yang membentang dari Kabupaten Bojonegoro bagian selatan, Jombang, Mojokerto, serta pesisir utara Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, dan Bondowoso. Di daerah ini sangat berpotensi untuk eksploitasi migas seiring dengan ditemukannya beberapa sumur pada Zona Kendeng ini seperti daerah Wunut, Mojokerto dan Tanggulangin, Sidoarjo selatan. Adanya industri migas ini diharapkan dapat memberikan pendapatan lebih pada penduduk sekitar. Pembangunan bendung irigasi dapat diprioritaskan pada zona ini karena di sebelah utaranya adalah Zona Randublatung yang sangat datar dan potensial untuk area persawahan. 4. Zona Pusat Depresi Jawa (Zona Solo, subzona Ngawi) Zona depresi merupakan daerah jajaran gunung api tersier. Dulunya zona depresi merupakan daerah berbukit/bertopografi tinggi lalu runtuh dan muncul gunung api. Zona ini meliputi Madiun, Nganjuk, Ngawi, Kediri. Subzona Ngawi merupakan tempat pengendapan material vulkanik yang berasal dar 5. Gunung Api Kuarter Zona ini meliputi area Gunung Wilis di sebelah barat Magetan, Gunung Wilis di sebelah timur Ponorogo, Gunung Arjuno, Gunung Bromo dan Gunung Semeru dan Gunung Argopuro. Kondisi topografi yang tinggi memungkinkan untuk mendapatkan curah hujan yang cukup tinggi, iklim yang sejuk, tanah hasil pelapukan endapan vulkanik yang sifatnya subur, dan menyerap air. Potensi bencana yang mengancam adalah letusan gunung api, gempa vulkanik, dan longsor pada lereng-lerengnya. Potensi yang harus dikembangkan adalah perkebunan, pariwisata alam, kehutanan terutama pada daerah puncak gunung, konservasi alam, dan penambangan golongan pasir, batu, dan tras. 6. Pegunungan Selatan Fisiografi Pegunungan Selatan Jawa membujur mulai dari wilayah Yogyakarta di bagian barat hingga daerah Blambangan di ujung timur Jawa Timur. Menampakkan bentukan plato sebagai hasil proses pengangkatan (uplifted peneplain) pada kala Miosen. Sebagai akibat proses pengangkatan, endapan batu gamping yang diselingi batuan vulkanik di dalam laut terangkat menjadi pegunungan. Pegunungan selatan jawa ini masih ada sampai sekarang dengan batuan penyusun yang didominasi oleh kapur. Sehingga daerah-daerah yang ada berkembang menjadi topografi karst dengan sistem drainase bawah tanahnya (subterranean drainage). Zona pegunungan selatan di Jawa Timur membentang dari Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang selatan, dan Jember. Aksesibilitas pada daerah ini sukar karena keadaan morfologinya yang kasar. Selain itu rawan bencana seperti longsor, gempa bumi, dan tsunami.
PULAU MADURA
Kondisi geografis pulau Madura dengan topografi yang relatif datar di bagian selatan dan semakin ke arah utara tidak terjadi perbedaan elevasi ketinggian yang begitu mencolok. Selain itu juga merupakan dataran tinggi tanpa gunung berapi dan tanah pertanian lahan kering. Iklim di daerah ini adalah tropis dengan suhu rata-rata 26,90C. Secara geologis Madura merupakan bagian jalur geologi sebelah utara Jawa Timur. Karena perbukitan gamping di Rembang dan area sebelah utara Surabaya masih berlanjut ke Pulau Madura. Dari Rembang di barat sampai area Sakala di sebelah timur Kangean merupakan jalur sesar sinistral besar bernama RMKS (Rembang-Madura-Kangean-Sakala) Fault Zone. Pulau Madura merupakan pulau yang mengalami pengangkatan paling kuat. Dengan terangkat paling tinggi melebihi jalur sebelah barat (Rembang-Pangkah) dan sebelah timur (Kangean-Sakala) maka Pulau Madura muncul dari laut dan menjadi pulau. Dari jalur Rembang-Sakala itu sebenarnya pulau Madura yang muncul pertama, yang lainnya masih laut dangkal baru kemudian menyusul area Rembang-Pangkah muncul dan area Kangean-Sakala.
Pulau Jawa yang semula merupakan geantiklin berangsur-angsur mengalami penurunan lagi sehingga pada Miosen bawah terjadi genang laut. Gunung api yang bermunculan di bagian selatan membentuk pulau-pulau gunung api. Pada pulau-pulau tersebut terdapat endapan breksi vulkanik dan endapan-endapan laut. Semakin jauh dari pantai terbentuk endapan gamping koral dan gamping foraminifera.
Pada Miosen tengah di sepanjang selatan pulau Jawa pembentukan gamping koral terus berkembang diselingi batuan vulkanik. Kemudian pada Miosen atas terjadi pengangkatan pada seluruh lengkung Sunda-Bali dan bagian selatan Jawa. Keberadaan pegunungan selatan Jawa ini tetap bertahan sampai sekarang dengan batuan penyusun yang didominasi oleh batuan kapur yang dibeberapa tempat diselingi oleh munculnya vulcanic neck atau bentuk intrusi yang lain. Perkembangan tektonik pulau Jawa dapat dipelajari dari pola-pola struktur geologi dari waktu ke waktu. Struktur geologi yang ada di pulau Jawa memiliki pola-pola yang teratur. Secara geologi pulau Jawa merupakan suatu komplek sejarah penurunan basin, pensesaran, pelipatan dan vulkanisme di bawah pengaruh stress regime yang berbeda-beda dari waktu ke waktu. Secara umum, ada tiga arah pola umum struktur yaitu arah Timur Laut –Barat Daya (NE-SW) yang disebut pola Meratus, arah Utara – Selatan (N-S) atau pola Sunda dan arah Timur – Barat (E-W) disebut pola Jawa.
Pola Meratus di bagian barat dapat dilihat pada Sesar Cimandiri, di bagian tengah ditunjukkan dari pola penyebaran singkapan batuan pra-Tersier di daerah Karang Sambung. Sedangkan di bagian timur ditunjukkan oleh sesar pembatas Cekungan Pati, “Florence” timur, “Central Deep”. Cekungan Tuban dan juga tercermin dari pola konfigurasi Tinggian Karimun Jawa, Tinggian Bawean dan Tinggian Masalembo. Pola Meratus tampak lebih dominan ditunjukkan pada bagian timur.
Pola Sunda berarah Utara-Selatan, di bagian barat tampak lebih dominan sementara perkembangan ke arah timur tidak terlihat. Pola-pola ini antara lain pola sesar-sesar pembatas Cekungan Asri, Cekungan Sunda dan Cekungan Arjuna. Pola Sunda pada Umumnya berupa struktur regangan.
Pola Jawa di bagian barat diwakili oleh sesar-sesar naik seperti sesar Beri-bis dan sesar-sesar dalam Cekungan Bogor. Di bagian tengah tampak pola dari sesar-sesar yang terdapat pada zona Serayu Utara dan Serayu Selatan. Di bagian Timur ditunjukkan oleh arah sesar Pegunungan Kendeng yang berupa sesar naik.
Dari data stratigrafi dan tektonik diketahui bahwa pola Meratus merupakan pola yang paling tua. Sesar-sesar yang termasuk dalam pola ini berumur Kapur sampai Paleosen dan tersebar dalam jalur Tinggian Karimun Jawa menerus melalui Karang Sambung hingga di daerah Cimandiri Jawa Barat. Sesar ini teraktifkan kembali oleh aktivitas tektonik yang lebih muda. Akibat dari pola struktur dan persebaran tersebut dihasilkan cekungan-cekungan dengan pola yang tertentu pula. Cekungan Jawa Utara bagian barat dan Cekungan Jawa Utara bagian timur yang terpisahkan oleh tinggian Karimun Jawa. Secara lebih terperinci, Dobby membagi Jawa dan Madura atas dasar bentuk permukaan buminya menjadi : 1. Pantai selatan yang merupakan dataran dari kapur 2. Daerah perbukitan di bagian tengah 3. Jalur gunung api yang menjadi sumbu Pulau Jawa 4. Jalur alluvial (endapan) yang memanjang dari Banten menuju Lembah Lusi-Solo sampai Selat Madura. 5. Pantai utara yang merupakan dataran dari kapur.
Pantai Selatan
Dinding-dinding pantai selatan Jawa sangat curam. Karena ketika bagian selatan pulau Jawa terangkat pada Oligosen, gelombang laut selatan Jawa yang besar akan menghantam dinding pantai sehingga menjadi terjal. Gelombang pantai yang besar ini dikarenakan angin yang berhembus berasal dari laut lepas (Samudera Hindia). Contohnya pada pantai Popoh di Tulung Agung. Pantai ini berhadapan langsung dengan laut lepas dan dinding pantainya sangat terjal. Pada pantai ini terdapat singkapan yang sangat bagus yaitu diantara lapisan batuan kapur tersisip suatu lapisan yang terdiri dari batuan pasir. Batuan ini merupakan hasil aktivitas vulkanik yang ada pada saat koral dan foraminifera mulai tumbuh pada Miosen bawah. Singkapan yang ada dibentuk oleh hantaman gelombang (abrasi) dari Samudera Hindia.
Daerah Perbukitan
Barisan perbukitan dan jalur lembah-lembah adalah bentang alam tua yang sudah sangat terkikis. Di antara perbukitan itu terdapat suatu alur yang dibeberapa tempat merupakan cekungan, misalnya Bandung dan Garut. Sedangkan mengarah ke timur semakin melebar dan mulai terbuka serta melandai sampai sebagian tenggelam di Selat Madura. Ketinggian endapan di daerah ini menurut Dobby sampai mencapai kira-kira 1200 m, dan membentuk bagian dari susunan dataran tinggi di Pulau Jawa. Di bagian selatan barisan perbukitan ini ada yang mencapai pantai sebagai tebing pantai yang curam. Hanya dibeberapa tempat dikatakan bahwa tanah tinggi itu mundur dari pantai, misalnya di dataran rendah Banyumas.
Jalur Gunung Api
Sumbu jalur rangkaian gunung api terletak di pedalaman. Sebagai perkecualian adalah Gunung Karang di Banten dan Gunung Muria di dekat Jepara. Kedua gunung api tersebut terletak di luar jalur umum. Di Jawa Barat rangkaian gunung api merupakan lengkungan melingkupi cekungan Bandung dan cekungan Garut, yang pada masa dahulu pernah tergenang menjadi danau. Keadaan yang mirip terdapat di Jawa Timur. Di sini pun gunung-gunung api membentuk kumpulan yang bersambung. Gunung-gunung api di Jawa Tengah agak berbeda dengan di Jawa Barat dan Jawa Timur. Di Jawa Tengah, gunung-gunung api hanya mengelompok dalam dua atau tiga saja, dipisahkan oleh dataran tinggi endapan. Kebanyakan gunung api tersebar pada jalur tengah. Bahan-bahan ejektanya menyebar ke berbagai tempat. Menurut Dobby, hanya gunung api di Banten Selatan yang mengeluarkan lava asam. Karena itu kesuburan daerah ini agak rendah bila dibandingkan dengan daerah lainnya di Jawa Barat.
Jalur Alluvial Utara
Endapan ini terbentuk oleh sungai yang membawa bahan ejekta gunung api. Karena itu, dataran ini umumnya cukup subur. Jalur endapan ini menurut Dobby terbagi atas dua bagian : (1) bagian yang sebelah dalam, yang lebih dekat ke pegunungan, dibatasi oleh teras-teras yang hampir sejajar dengan garis pantai; (2) bagian luar merupakan dataran yang tingginya <> Pantai Kapur Utara Pantai utara Jawa merupakan daerah yang relatif tandus karena di sana terdapat alur pegunungan kapur utara. Pantai kapur ini terutama terdapat di daerah Rembang dan Madura. Di pantai Rembang-Bojonegoro dataran endapannya sempit dan pantainya mempunyai tebing agak curam, dibeberapa daerah melebihi 30 m. Di Madura tepian kapur ini tidak merata. Physiographic Zones of Java and Madura menurut Van Bemmelen (1949- 1970) : Legends of The Physiographic Zones : 1. Quaternary Volcanoes 2. Alluvial Plains of Northern Java 3. Rembang Madura Anticlinorium 4. Bogor, North Serayu, and Kendeng Anticlinorium 5. Domes and Ridges in the Central Depression Zone 6. Central Depression Zone of Java and Randublatung Zone 7. Southern Mountains
JAWA BARAT BANTEN
Dataran yang rendah di bagian utara Muncul vulkan (gunung Gede) di barat laut dengan pelabuhan Merak di kaki vulkan di bagian barat dan komplek danau dengan puncak Gunung Karang dan Gunung Pulasari. Gunung api (vulkan) tersebut merupakan kelanjutan (sambungan) dari volkan di selat Sunda (Krakatau, Sebesi, Sebuku, Sangiang) dan Gunung Betung, Ratai, Rajabasa di Sumatera (Lampung).
Dataran tersebut tertutup oleh tuff dan batu apung yang merupakan produk dari letusan vulkan di selat sunda selama kala pliopleistosin. Semenanjung Ujung Kulon dan Honje Ridge di tenggara Banten Keduanya terpisah dari Jawa oleh laut pada pleistosin dan merupakan bagian ujung bagian selatan bukit barisan. Ujung Kulon berhubungan dengan teluk Semangko namun saat ini telah mengalami penurunan di bagian tengah sampai 1000 m di bawah laut dan terpisah karena kenaikan permukaan air pada pleistosin. Honje Ridge merupakan bentuk uplift dan bagian dari transisi geosinklinal sumatera bagian timur dan Jawa bagian utara. Dataran rendah di timur laut Banten, utara Bajah dome, dan timur komplek danau. Yaitu berupa lapisan tersier muda yang terlipat, tuff kuarter dan timbunan/endapan alluvial.
DATARAN BATAVIA
Berukuran lebar ± 40 km yang meluas dari Serang, Rangkas Bitung sampai Cirebon. Mengandung dalam jumlah besar endapan alluvial sungai dan lahar dari gunung api di bagian tengah. Pada bagian tertentu terdapat sedimen marine tertier yang terlipat. Pada bagian selatan berhubungan dengan komplek perbukitan yang membujur dari Jasinga (berbatasan dengan Banten) sampai sungai Pemali dan Bumiayu (Jawa Tengah).
ZONE BOGOR
Pada bagian barat merupakan lapisan neogen yang terlipat kuat dengan beberapa hypabysal volcanic, stock yang muncul pada komplek sangga buana di bagian barat Purwakarta. Bagian barat tersebut meluas ke timur yang dimahkotai oleh vulkan muda seperti Bukit Tunggul, Tampomas dan Ceremai. Sabuk memanjang dari depresi antarpegunungan berupa lapisan tersier yang mempunyai lebar 20 km-40 km. Membentang dari teluk pelabuhan Ratu, lembah Cimandiri (Sukabumi), dataran bagian atas Cianjur, Garut, lembah Citandui (Tasikmalaya) di bagian barat dan berakhir di segara anakan pada pantai selatan Jawa.
ZONE BANDUNG
Merupakan suatu depresi dan secara struktural merupakan bagian puncak dari geantiklin Jawa yang mengalami patahan ke bawah setelah atau selama akhir tersier. Batas antara zone Bandung dengan zone Bogor ditutup oleh gunung api kuarter (muda), yaitu Gunung Kendeng, Gagak, Salak, Gede, Pangrango, Komplek Sunda, Burangrang, Tangkuban Perahu, Bukit Tunggl, Calancang, Cakrabuana. Batas antara zone Bandung dengan zone selatan (pegunungan) ditandai oleh seri gunung api Kendeng, Patuha, Tilu, Malabar, Papandayan, Cikurai. Zone Bandung diisi sebagian oleh vulkan muda dan endapan alluvial tetapi pada bagian atas kadang-kadang diintrusi jajaran batuan tersier dan bukit-bukit. Di bagian selatan berupa tanah rendah Citandui (Marsh), di bagian barat dekat Banjar berupa Swamp (lakbok) besar, dan jajaran pegunungan yang meluas dari Wonorejo ke arah tenggara sampai maos pada sungai Serayu. Jajaran pegunungan ini mengandung lapisan neogen bawah dan batuan volkanik.
PEGUNUNGAN SELATAN
Dibentuk oleh lahan pegunungan Priangan Selatan, unit tersebut membujur teluk pelabuhan Ratu sampai pulau Nusa Kambangan. Merupakan geantiklin Jawa bagian selatan dan merupakan blok-blok patahan yang bergeser ke arah selatan. Dibedakan menjadi 3 bagian : Di bagian barat (Jampang) Merupakan permukaan erosional yang muncul secara gradual dari lautan India sampai ketinggian 1000 m berupa breksi andesit yang terbentuk pada meosin atas, sekarang berupa volcanic neck. Plato, dan puncak tertinggi pada plato tersebut adalah Gunung Malang (1300 m) yang merupakan sisa dari intrusi andesit zaman meosin berupa volcanic neck yang resisten. Plato tersebut selanjutnya patah ke bawah dan terbentuk patahan atau flexure sampai ke zone Bandung. Bagian Tengah/Seksi Pangalengan Merupakan daerah yang tinggi yang dimahkotai oleh beberapa vulkan (Gunung Kencana 2.182 m) dan selanjutnya patah ke bawah dengan membentuk patahan atau flexure ke zone Bandung. Zone Transisi antara bagian tengah ini dengan zone Bandung (ada fault) ditandai oleh seri vulkan kuarter yang berhubungan dengan zone Bandung. Bagian Timur (Seksi Karangnunggal) Merupakan plato yang mempunyai ketinggian rendah (350-400 m) di atas permukaan laut. Di sebelah selatan terdapat igir yang lebih tinggi yang merupakan sisa erosi permukaan. Plato Karangnunggal terdiri dari batuan kapur berumur meosin yang mengalami sedikit pelipatan. Terdapat topografi karst dengan banyak kubah dan banyak sungai dengan lembah yang sempit. Zone plato ini miring ke arah selatan dan bertambah sempit dan berakhir pada taji (spur) dekat lembah yang tenggelam yang memisahkannya dari Nusa Kambangan. Secara geomorfologis Jawa Barat terbagi menjadi : Zone Selatan : Plato Jampang, Plato Bongga dan Plato Karangnunggal. Zone Tengah (berupa depresi) : Dataran Tasikmalaya, Dataran Garut, Komplek pegunungan di barat Garut, Lipatan Rajamandala, Dataran Bandung, Dataran Cianjur-Sukabumi, Komplek Gunung Gede-Pangrango dan Sekton Banten. Zone Utara Daerah Lipatan, Endapan Kipas, Jalur Peneplain, gunung Ceremai dan se-kitarnya, Komplek Tangkuban Perahu, Komplek pegunungan di Banten.
JAWA TENGAH
Jawa Tengah merupakan bagian yang sempit di antara bagian yang lain dari Pulau Jawa, garis pantai utara dan selatan wilayah ini lebih sempit masuk dibanding garis pantai utara dan selatan Jawa Barat dan Jawa Timur. Lebarnya pada arah utara-selatan sekitar 100 – 120 km. Daerah Jawa Tengah tersebut terbentuk oleh dua pegunungan yaitu Pegunungan Serayu Utara yang berbatasan dengan jalur Pegunungan Bogor di sebelah barat dan Pegunungan Kendeng di sebelah timur serta Pegunungan Serayu Selatan yang merupakan terusan dari Depresi Bandung di Jawa Barat. Jawa Tengah dibagi menjadi beberapa wilayah menurut bentang fisiografisnya, yaitu: Dataran Pantai Bagian Utara Mempunyai lebar maksimum 40 km di selatan Brebes dan di lembah Remali yang memisahkan Bogor Range dari pegunungan bagian utara Jawa tengah dan sedikit ke timur dengan lebar ± 20 km di selatan Tegal dan Pekalongan. Antara Wereli dan Kaliwungu merupakan alluvial yang dibentuk oleh delta dari sungai Bodri. Secara umum dataran pantai bagian utara Jawa Tengah merupakan endapan alluvial yang terbawa sungai yang bermuara di Laut Jawa.
North Serayu Range
Mempunyai lebar antara 30-50 km. Pada bagian barat berupa volkan (G. Slamet) dan bagian timur ditutup oleh produk gunung api muda seperti Rogojembangan, komplek Dieng (G. Perahu dsb), G. Ungaran. Garis batas dengan zone Bogor (Jawa Barat) merupakan garis lurus Prupuk-Bumiayu-Ajibarang. Dan berhubungan dengan Kendeng Ridge di Jawa Timur. Antara bagian utara dan selatan Serayu Range terdapat depresi memanjang yang dinamakan zone Serayu yang sekarang adalah tempat-tempat di Majenang, Ajibarang, Purwokerto, Banjarnegara, Wonosobo. Antara Purwokerto dan Banjarnegara dengan lebar ± 15 km. Sebelah timur Wonosobo merupakan batasnya, berupa depresi yang sebagian diisi oleh gunung api muda Sindoro dan Sumbing, yang secara geografis merupakan dataran antarpegunungan Temanggung-Magelang.
South Serayu Range
Terbagi menjadi bagian barat dan timur. Pada bagian barat merupakan elemen strukturak baru yang menyambung dengan Jawa Barat. Dengan Bogor Ringe (Zone Bogor) dipisahkan oleh dataran Majenang dan bagian atas yang lurus dari sungai pasir dan Cihaur. Pada bagian timur merupakan Lembah Jatilawang yang dimulai dari dekat Ajibarang (merupakan antiklinorium yang sempit), yang selanjutnya terpotong oleh sungai Serayu. Bagian barat Banyumas berupa antiklin, berkembang sebagai antiklinorium dengan lebar 30 km di Lukulo, Midangan (selatan Banjarnegara). Pada ujung timur dibentuk oleh Dome Independen dari pegunungan Progo Barat, antara Purworejo dan sungai Progo.
Dataran Pantai Selatan Jawa Tengah
Lebar ± ±10-25 km. Bentuk pantai bagian selatan ini kontras dengan bentuk pantai selatan Jawa Barat dan Jawa Timur, lapisannya <10> Pantai-pantai dengan dune (gumuk pasir) dengan ketinggian 5-15 m dan lebar 100-500 m terbentuk sejajar pantai, dan selalu berubah. Pada bagian tengah diinterupsi oleh Pegunungan Karangbolong (475 m) yang secara fisiografis dan struktural sama dengan pegunungan selatan Jawa Barat dan Jawa timur. Sebagian dari pantai ini mempunyai ketinggian di bawah muka laut (tenggelam) antara Nusa Kambangan dan mulut sungai Opak. Pantai selatan yang rendah ini berhubungan dengan zone Bandung di Jawa Barat.
JAWA TIMUR
Struktur Geologi Jawa Timur di dominasi oleh Alluvium dan bentukan hasil gunung api kwarter muda, keduanya meliputi 44,5 % dari luas wilayah darat dan hasil gunung api kwarter tua sekitar 9,78 % dari luas total wilayah daratan. Sementara itu batuan lain hanya mempunyai proporsi antara 0 - 7% saja.
Batuan sedimen alluvium tersebar disepanjang sungai Brantas dan Bengawan Solo yang merupakan daerah subur. Batuan hasil gunung api kwater muda tersebar di bagian tengah wilayah Jawa Timur membujur ke arah timur yang merupakan daerah relatif subur. Batuan Miosen tersebar di sebelah selatan dan utara Jawa Timur membujur ke arah timur yang merupakan daerah kurang subur. Bagi pulau Madura batuan ini sangat dominan dan utamanya merupakan batuan gamping. Jawa Timur dibagi secara bentang fisiografis menjadi enam zona yang membentang barat-timur. 1. Antiklinorium Rembang (Zona Rembang) Zona Rembang merupakan paleo shelf atau paparan (utaranya) dan slope (selatannya) dari sistem Sunda land semasa Paleogen hingga awal Neogen. Selama Neogen akhir zona Rembang selatan hingga Kendeng berangsur menjadi endapan laut dalam. Karena subsidence inilah, maka terjadi kompetisi seleksi alam bagi pertumbuhan karbonat (reefal carbonate) di sepanjang zona Randublatung.
Zona ini meliputi pantai utara Jawa yang membentang dari Tuban ke arah timur melalui Lamongan, Gresik, dan hampir keseluruhan Pulau Madura. Merupakan daerah dataran yang berundulasi dengan jajaran perbukitan yang berarah barat-timur dan berselingan dengan dataran aluvial. Lebar rata-rata zona ini adalah 50 km dengan puncak tertinggi 515 m (Gading) dan 491 (Tungangan). Litologi karbonat mendominasi zona ini. Aksesibilitas cukup mudah. Karakter tanahnya keras. 2. Zona Depresi Randublatung
Secara struktur, ternyata Zona Randublatung adalah sebuah "triangle zona", sebuah zona berbentuk segitiga dengan kedua kakinya merupakan zona-zona sesar yang saling berlawanan kemiringan dan arahnya, bertemu di puncak segitiga. Di Jawa Tengah-Timur ini, Zona Randublatung berupa zona yang datar yang diapit oleh dua zona perbukitan (Zona Rembang dan Zona Kendeng). Zone Rembang merupakan daerah paparan dan slope yang dicirikan dengan dominasi sesar naik mengarah (vergency) ke selatan. Zone Kendeng merupakan daerah slope dan bathyal dengan dominasi sesar naik mengarah ke utara. Akibatnya, di daerah pertemuan ini, terbentuk sebuah zone sangat sempit, memanjang, dan sangat dalam, inilah Zone Randublatung yaitu sebuah triangle zone yang ideal. Karakter tanahnya lunak karena sebagian besarnya ditutupi oleh batu lempung, aksesibilitas mudah, adanya aliran Bengawan Solo memungkinkan untuk berperan dalam irigasi persawahan. Potensi ada pada areal persawahan. Selain itu, daerah ini berpotensi dalam industri migas karena daerah cekungan ini merupakan tempat terbentuknya minyak.
3. Antiklinorium Kendeng (Zona Kendeng) Secara umum struktur – struktur yang ada di Zona Kendeng berupa : Lipatan Lipatan yang ada pada daerah Kendeng sebagian besar berupa lipatan asimetri bahkan beberapa ada yang berupa lipatan overturned. Lipatan – lipatan di daerah ini ada yang memiliki pola lipatan menunjam. Secara umum lipatan di daerah Kendeng berarah barat – timur. Sesar Naik Sesar naik ini biasa terjadi pada lipatan yang banyak dijumpai di Zona Kendeng, dan biasanya merupakan kontak antar formasi atau anggota formasi. Sesar Geser Sesar geser pada Zona Kendeng biasanya berarah timur laut- barat daya dan tenggara -barat laut. Struktur Kubah Struktur Kubah yang ada di Zona Kendeng biasanya terdapat di daerah Sangiran pada satuan batuan berumur Kuarter. Bukti tersebut menunjukkan bahwa struktur kubah pada daerah ini dihasilkan oleh deformasi yang kedua, yaitu pada Kala Plistosen. Menurut Van Bemmelen (1949), Pegunungan Kendeng dibagi menjadi 3 bagian, yaitu bagian barat yang terletak di antara Gunung Ungaran dan Solo (utara Ngawi), bagian tengah yang membentang hingga Jombang dan bagian timur mulai dari timur Jombang hingga Delta Sungai Brantas dan menerus ke Teluk Madura. Daerah penelitian termasuk dalam Zona Kendeng bagian barat.
Menurut Harsono P. (1983) Stratigrafi daerah kendeng terbagi menjadi dua cekungan pengendapan, yaitu Cekungan Rembang (Rembang Bed) yang membentuk Pegunungan Kapur Utara, dan Cekungan Kendeng (Kendeng Bed) yang membentuk Pegunungan Kendeng. Formasi yang ada di Kendeng adalah sebagi berikut: Zona perbukitan yang membentang dari Kabupaten Bojonegoro bagian selatan, Jombang, Mojokerto, serta pesisir utara Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, dan Bondowoso. Di daerah ini sangat berpotensi untuk eksploitasi migas seiring dengan ditemukannya beberapa sumur pada Zona Kendeng ini seperti daerah Wunut, Mojokerto dan Tanggulangin, Sidoarjo selatan. Adanya industri migas ini diharapkan dapat memberikan pendapatan lebih pada penduduk sekitar. Pembangunan bendung irigasi dapat diprioritaskan pada zona ini karena di sebelah utaranya adalah Zona Randublatung yang sangat datar dan potensial untuk area persawahan. 4. Zona Pusat Depresi Jawa (Zona Solo, subzona Ngawi) Zona depresi merupakan daerah jajaran gunung api tersier. Dulunya zona depresi merupakan daerah berbukit/bertopografi tinggi lalu runtuh dan muncul gunung api. Zona ini meliputi Madiun, Nganjuk, Ngawi, Kediri. Subzona Ngawi merupakan tempat pengendapan material vulkanik yang berasal dar 5. Gunung Api Kuarter Zona ini meliputi area Gunung Wilis di sebelah barat Magetan, Gunung Wilis di sebelah timur Ponorogo, Gunung Arjuno, Gunung Bromo dan Gunung Semeru dan Gunung Argopuro. Kondisi topografi yang tinggi memungkinkan untuk mendapatkan curah hujan yang cukup tinggi, iklim yang sejuk, tanah hasil pelapukan endapan vulkanik yang sifatnya subur, dan menyerap air. Potensi bencana yang mengancam adalah letusan gunung api, gempa vulkanik, dan longsor pada lereng-lerengnya. Potensi yang harus dikembangkan adalah perkebunan, pariwisata alam, kehutanan terutama pada daerah puncak gunung, konservasi alam, dan penambangan golongan pasir, batu, dan tras. 6. Pegunungan Selatan Fisiografi Pegunungan Selatan Jawa membujur mulai dari wilayah Yogyakarta di bagian barat hingga daerah Blambangan di ujung timur Jawa Timur. Menampakkan bentukan plato sebagai hasil proses pengangkatan (uplifted peneplain) pada kala Miosen. Sebagai akibat proses pengangkatan, endapan batu gamping yang diselingi batuan vulkanik di dalam laut terangkat menjadi pegunungan. Pegunungan selatan jawa ini masih ada sampai sekarang dengan batuan penyusun yang didominasi oleh kapur. Sehingga daerah-daerah yang ada berkembang menjadi topografi karst dengan sistem drainase bawah tanahnya (subterranean drainage). Zona pegunungan selatan di Jawa Timur membentang dari Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang selatan, dan Jember. Aksesibilitas pada daerah ini sukar karena keadaan morfologinya yang kasar. Selain itu rawan bencana seperti longsor, gempa bumi, dan tsunami.
PULAU MADURA
Kondisi geografis pulau Madura dengan topografi yang relatif datar di bagian selatan dan semakin ke arah utara tidak terjadi perbedaan elevasi ketinggian yang begitu mencolok. Selain itu juga merupakan dataran tinggi tanpa gunung berapi dan tanah pertanian lahan kering. Iklim di daerah ini adalah tropis dengan suhu rata-rata 26,90C. Secara geologis Madura merupakan bagian jalur geologi sebelah utara Jawa Timur. Karena perbukitan gamping di Rembang dan area sebelah utara Surabaya masih berlanjut ke Pulau Madura. Dari Rembang di barat sampai area Sakala di sebelah timur Kangean merupakan jalur sesar sinistral besar bernama RMKS (Rembang-Madura-Kangean-Sakala) Fault Zone. Pulau Madura merupakan pulau yang mengalami pengangkatan paling kuat. Dengan terangkat paling tinggi melebihi jalur sebelah barat (Rembang-Pangkah) dan sebelah timur (Kangean-Sakala) maka Pulau Madura muncul dari laut dan menjadi pulau. Dari jalur Rembang-Sakala itu sebenarnya pulau Madura yang muncul pertama, yang lainnya masih laut dangkal baru kemudian menyusul area Rembang-Pangkah muncul dan area Kangean-Sakala.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar